Agroforestry Lecture notes
in Indonesian
Bahan Ajaran Pengantar Agroforestri
Go
to modules
Agroforestri dan Ekosistem Sehat
Widianto, Sri Rahayu
Utami dan Kurniatun Hairiah (Editors)
.
Pengantar
Alih-guna lahan hutan menjadi lahan
pertanian disadari menimbulkan banyak masalah seperti penurunan kesuburan
tanah, erosi, kepunahan flora dan fauna, banjir, kekeringan dan bahkan
perubahan lingkungan global. Masalah ini bertambah berat dari waktu ke
waktu sejalan dengan meningkatnya luas areal hutan yang dialih-gunakan
menjadi lahan usaha lain. Agroforestri adalah salah satu sistem
pengelolaan lahan yang mungkin dapat ditawarkan untuk mengatasi masalah
yang timbul akibat adanya alih-guna lahan tersebut di atas dan sekaligus
juga untuk mengatasi masalah pangan. Agroforestri, sebagai suatu cabang ilmu
pengetahuan baru di bidang pertanian dan kehutanan, berupaya mengenali dan
mengembangkan keberadaan sistem agroforestri yang telah dipraktekkan
petani sejak dulu kala. Secara sederhana, agroforestri berarti menanam
pepohonan di lahan pertanian, dan harus diingat bahwa petani atau
masyarakat adalah elemen pokoknya (subyek). Dengan demikian kajian
agroforestri tidak hanya terfokus pada masalah teknik dan biofisik saja
tetapi juga masalah sosial, ekonomi dan budaya yang selalu berubah dari
waktu ke waktu, sehingga agroforestri merupakan cabang ilmu yang dinamis. Sebagai tindak lanjut dari hasil beberapa
pertemuan yang diselenggarakan oleh SEANAFE (South East Asian Network
for Agroforestry Education) antara lain Workshop ‘Pengembangan
Kurikulum Agroforestri’ di Wanagama-UGM (Yogyakarta) pada tanggal 27-30
Mei 2001, dan Workshop ‘Pemantapan Kurikulum Agroforestri’ di UNIBRAW
(Malang) pada tanggal 12-13 November 2001, maka beberapa topik yang
diusulkan dalam pertemuan tersebut dapat tersusun untuk mengawali kegiatan
ini. Bahan Ajaran ini diharapkan dapat digunakan untuk mengenalkan
agroforestri di tingkat Strata 1 pada berbagai perguruan tinggi. ICRAF SE
Asia telah bekerjasama dengan dosen dari berbagai perguruan tinggi di Asia
untuk menyiapkan dua seri Bahan Ajaran agroforestri berbahasa Inggris yang
dilengkapi dengan contoh kasus dari Asia Tenggara. Seri pertama, meliputi
penjelasan berbagai bentuk agroforestri di daerah tropika mulai dari yang
sederhana hingga kompleks, fungsi agroforestri dalam konservasi tanah dan
air, manfaat agroforestri dalam mereklamasi lahan alang-alang, dan
domestikasi pohon. Seri kedua, berisi materi yang difokuskan pada
kerusakan lingkungan akibat alih-guna lahan hutan menjadi lahan pertanian
dan adanya kegiatan pembukaan lahan dengan cara tebang bakar atau
biasa juga disebut dengan tebas bakar. Materi Bahan Ajaran ini
diperoleh dari hasil-hasil penelitian proyek global tentang "Alternatives
to Slash and Burn" (ASB) yang dikoordinir oleh ICRAF, sehingga
contoh kasus yang dipakai tidak hanya dari Asia Tenggara tetapi juga dari
negara tropis lainnya di Afrika dan Latin Amerika. Kedua Bahan Ajaran
tersebut tersedia dalam web site http://www.worldagroforestrycentre.org.
Sebagai usaha berikutnya dalam membantu proses pembelajaran di perguruan
tinggi, seri buku ajar kedua diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia,
Thailand, Vietnam dan dikembangkan sesuai dengan kondisi masing-masing
negara. Hampir bersamaan dengan itu ICRAF SE Asia
juga telah mendukung penulisan Bahan Ajaran Pengantar Agroforestri secara
partisipatif dengan melibatkan pengajar-pengajar (dosen) agroforestri dari
beberapa perguruan tinggi di Indonesia. Penulisan Bahan Ajaran ini selain
didasarkan pada bahan-bahan yang sudah dikembangkan oleh ICRAF SE Asia,
juga diperkaya oleh para penulisnya dengan pengalaman di berbagai lokasi
di Indonesia. Bahan Ajaran Pengantar Agroforestri ini terdiri dari 9 bab,
yang secara keseluruhan saling melengkapi dengan Bahan Ajaran agroforestri
seri ASB (secara skematis disajikan pada Gambar 1). Dalam gambar ini
ditunjukkan hubungan antara kesembilan bab Bahan Ajaran Pengantar
Agroforestri (kelompok sebelah kiri) dengan Bahan Ajaran seri ASB yang
berada di kelompok sebelah kanan (dalam kotak garis putus-putus).
|
| . |
. |
 |
| Gambar 1. Topik-topik Bahan Ajaran berbahasa Indonesia yang
disiapkan untuk pembelajaran di Perguruan Tinggi di Indonesia. Bahan Ajaran ini akan
segera tersedia di ICRAF web site http://www.worldagroforestrycentre.org
|
| |
|
Dari kedua seri Bahan Ajaran ini kita coba
untuk menjawab lima pertanyaan utama yaitu:
(1) Apakah ada masalah dengan sumber daya alam
kita ?
(2) Sistem apa yang dapat kita tawarkan dan apa yang dimaksud dengan
agroforestri?
(3) Adakah manfaatnya?
(4) Apa yang dapat kita perbaiki?
(5) Bagaimana
prospek penelitian dan pengembangan agroforestri di Indonesia?
Bahan Ajaran ini diawali dengan memberikan pengertian tentang
agroforestri, sejarah
perkembangannya dan macam-macamnya serta klasifikasinya disertai dengan contoh sederhana
(Bahan Ajaran Agroforestri (AF) 1 dan 2).
Secara umum agroforestri berfungsi protektif (yang lebih mengarah kepada manfaat
biofisik) dan produktif (yang lebih mengarah kepada manfaat ekonomis). Manfaat
agroforestri secara biofisik ini dibagi menjadi dua level yaitu level bentang lahan atau
global dan level plot. Pada level global meliputi fungsi agroforestri dalam konservasi
tanah dan air, cadangan karbon (C stock) di daratan, mempertahankan keanekaragaman
hayati.
Kesemuanya ini dibahas pada Bahan Ajaran AF 3, sedang ulasan lebih mendalam dapat dijumpai
dalam Bahan Ajaran ASB 2, 3, dan 4. Untuk skala plot, penulisan bahan ajar lebih
difokuskan pada peran pohon dalam mempertahankan kesuburan tanah walaupun tidak semua
pohon dapat memberikan dampak yang menguntungkan. Untuk itu diperlukan pemahaman yang
dalam akan adanya interaksi antara pohon-tanah dan tanaman semusim. Dasar-dasar proses
yang terlibat dalam sistem agroforestri ini ditulis di Bahan Ajaran AF 4. Selain
itu,
agroforestri juga sebagai sistem produksi sehingga mahasiswa dituntut untuk menguasai
prinsip-prinsip analisis ekonomi dan finansial, yang dapat diperoleh di Bahan Ajaran AF 5.
Di Indonesia agroforestri sering juga ditawarkan sebagai salah satu sistem pertanian
yang berkelanjutan. Namun dalam pelaksanaannya tidak jarang mengalami
kegagalan, karena
pengelolaannya yang kurang tepat. Guna meningkatkan kemampuan mahasiswa dalam mengelola
agroforestri, diperlukan paling tidak tiga ketrampilan utama yaitu: (a) mampu menganalisis
permasalahan yang terjadi, (b) merencanakan dan melaksanakan kegiatan
agroforestri, (c)
monitoring dan evaluasi kegiatan agroforestri. Namun prakteknya, dengan hanya memiliki
ketiga ketrampilan tersebut di atas masih belum cukup karena kompleksnya proses yang
terjadi dalam sistem agroforestri. Sebelum lebih jauh melakukan inovasi teknologi
mahasiswa perlu memahami potensi dan permasalahan yang dihadapi oleh praktek agroforestri
(diagnosis). Selanjutnya, untuk menyederhanakan interpretasi proses-proses yang terlibat
maka diperlukan alat bantu simulasi model agroforestri, yang dapat dijumpai di Bahan
Ajaran AF 6.
Banyak hasil penelitian diperoleh untuk memecahkan masalah yang timbul di
lapangan,
tetapi usaha ini secara teknis seringkali mengalami kegagalan. Transfer teknologi dari
stasiun penelitian ke lahan petani seringkali hanya diadopsi sebagian atau bahkan tidak
diadopsi sama sekali oleh petani.
Berangkat dari pengalaman pahit tersebut di atas, dewasa ini sedang berlangsung pergeseran
paradigma lebih mengarah ke partisipasi aktif petani baik dalam penelitian dan
pembangunan. Dengan demikian pada Bahan Ajaran AF 7 diberikan penjelasan pentingnya
memasukkan pengetahuan ekologi lokal dalam pemahaman dan pengembangan sistem
agroforestri.
Selanjutnya dalam Bahan Ajaran AF 8 diberikan pemahaman akan pentingnya kelembagaan dan
kebijakan sebagai landasan pengembangan agroforestri yang berkelanjutan, dan analisis atas
aspek kelembagaan dan kebijakan pemerintah dalam pengembangan agroforestri.
Telah disebutkan di atas bahwa agroforestri adalah praktek lama di Indonesia, tetapi
agroforestri merupakan cabang ilmu pengetahuan baru. Bagaimana prospek penelitian dan
pengembangannya di Indonesia? Mengingat kompleksnya sistem agroforestri, maka paradigma
penelitian agroforestri berubah dari level plot ke level bentang lahan atau bahkan ke
level global.
Bahan Ajaran AF 9, memberikan gambaran tentang macam-macam penelitian agroforestri yang
masih diperlukan dan beberapa pendekatannya. Setelah dirasa cukup memahami konsep dasar
agroforestri dan pengembangannya, maka mahasiswa ditunjukkan beberapa contoh agroforestri
di Indonesia: mulai dari cara pandang sederhana sampai mendalam. Melalui contoh yang
disajikan bersama dengan beberapa pertanyaan, diharapkan mahasiswa mampu mengembangkan
lebih lanjut dengan pengamatan, analisis dan bahkan penelitian tentang praktek-praktek
agroforestri di lingkungan masing-masing. Mengingat keragaman yang ada di Indonesia, masih
terbuka kesempatan bagi para mahasiswa untuk menggali sistem agroforestri yang berbeda
dengan yang disajikan dalam Bahan Ajaran ini.
|
| |
|
| Ucapan
terima kasih |
|
Seri Bahan Ajaran Pengantar Agroforestri ini disusun oleh beberapa orang tenaga
pengajar (dosen) dari empat universitas di Indonesia (Institut
Pertanian Bogor, Universitas Gajah Mada, Universitas Mulawarman, dan Universitas Brawijaya) yang bekerjasama dengan
beberapa orang peneliti dari dua lembaga penelitian internasional yaitu World Agroforestry
Centre (ICRAF-SE Asia) dan Centre of International Forestry Research (CIFOR), Bogor. Sebenarnya, proses penyusunan Bahan Ajaran
ini sudah berlangsung cukup lama dan dengan memberi kesempatan kepada tenaga pengajar dari
berbagai perguruan tinggi di Indonesia. Namun, minimnya tanggapan dari berbagai pihak
menyebabkan hanya beberapa tenaga dari empat perguruan tinggi dan dua lembaga penelitian
tersebut yang berpartisipasi.
Penghargaan yang setinggi-tingginya disampaikan kepada rekan-rekan
penulis: Sambas
Sabarnurdin (UGM), Mustofa Agung Sarjono (UNMUL), Hadi Susilo Arifin (IPB), Leti Sundawati
(IPB), Nurheni Wijayanto (IPB), Didik Suharjito (IPB), Tony Djogo (CIFOR), Didik Suprayogo
(UNIBRAW), Sunaryo (UNIBRAW), Meine van Noordwijk (ICRAF SE Asia), Laxman Joshi (ICRAF SE
Asia), Bruno Verbist (ICRAF SE Asia) dan Betha Lusiana (ICRAF SE Asia) atas peran aktifnya
dalam penulisan Bahan Ajaran ini. Suasana kekeluargaan penuh keakraban yang terbentuk
selama penyusunan dirasa sangat membantu kelancaran jalannya penulisan. Semoga keakraban
ini tidak berakhir begitu saja setelah tercetaknya Bahan Ajaran ini.
Bahan Ajaran ini disusun berkat inisiatif, dorongan dan bantuan rekan Bruno Verbist
yang selalu bersahabat, walaupun kadang-kadang beliau harus berhadapan dengan situasi yang
kurang bersahabat.
Bantuan Ibu Tikah Atikah, Dwiati Novita Rini dan Pak Wiyono dari ICRAF SE Asia Bogor
dalam pengaturan tata letak teks dan pembuatan ilustrasi untuk Bahan Ajaran ini sangat
dihargai. Dukungan finansial penyusunan Bahan Ajaran ini diperoleh dari Pemerintah Belanda
melalui "Proyek Bantuan Langsung Pendidikan" di Indonesia (DSO,
Directe Steun Onderwijs).
|
| |
|
| Penutup |
|
Bahan Ajaran bukan merupakan bahan mati, isinya harus dinamis sesuai dengan
perkembangan ilmu, teknologi dan kebutuhan. Oleh karena itu, dengan terselesaikannya Bahan
Ajaran ini bukan berarti tugas kita sebagai pengajar juga telah berakhir. Justru dengan
terbitnya Bahan Ajaran ini baru nampak dan disadari oleh para penulis bahwa ternyata masih
banyak materi penting lainnya yang belum tertuang dalam seri Bahan Ajaran
ini. Para
penulis sepakat untuk terus mengadakan pembaharuan dan pengembangan bilamana masih
tersedia kesempatan. Demi kesempurnaan Bahan Ajaran ini, kritik dan saran perbaikan dari
pengguna (dosen dan mahasiswa), peneliti maupun anggota masyarakat lainnya sangat
dibutuhkan.
Semoga buku ini dapat membantu kelancaran proses pembelajaran agroforestri di perguruan
tinggi di Indonesia, dan semoga dapat memperbaiki tingkat pengetahuan generasi muda yang
akan datang dalam mengelola sumber daya alam.
|
| |
|
| Copyright |
|
Untuk tujuan kelancaran proses
pendidikan, Bahan Ajaran ini bebas untuk difotocopi sebagian maupun
seluruhnya.
|
| |
Go
to modules |
|
. |